Selasa, 30 Desember 2014
- Mengintip Bekasi dari Belakang
- Pidato Tugas Filsafat
- Esensi Pendidikan dalam Aliran Esensialisme
- Pekerjaan Journalisme seperti Reporter di Zaman Sekarang
- Ronguwasirto-Orang Jawa yang Telah Memprediksi tentang Indonesia
- Pertanyaan Filsafat
- Esensi Pendidikan Menurut Aliran Materialisme
- Rangkuman Filsafat ke-1
- Rangkuman Filsafat Dewasa Ini ke-2
- Peran Guru dalam Implementasi Kurikulum 2013
- Perjalanan Isra Mi’Raj Sudut Pandang Teori Fisika
- Sepenggal Kisah Wali di Sekitar Wali Songo
- Rangkuman Filsafat Dewasa Ini ke-3
- Sebab Guru Matematika itu “Galak”
- Presentasi Filsafat
Sebab Guru Matematika itu “Galak”
Siapa yang tidak tahu
matematika. Matematika merupakan bagian dari hidup manusia. Manusia dalam
kehidupan selalu terkait dengan matematika. Mulai dari membeli sesuatu, kita
menggunakan matematika untuk melakukan barter uang dengan benda. Kita
menghitung jumlah barang juga menggunakan matematika. Menghitung luas suatu
ruangan dengan menggunakan matematika. Hampir semua kegiatan manusia berkaitan
dengan matematika.
Manusia mengenal
matematika dari mereka kecil. Namun
mereka baru menemui pembelajaran saat SD.
Lalu bagaimana identik matematika itu dalam pembelajarannya? Sebagian
siswa atau kebanyakan mereka yang belajar matematika menyatakan satu, guru
matematika itu galak.
Julukan “ guru galak “
sudah tertanam dalam setiap pembelajaran. Tapi pernakah kita berpikir mengapa
matematika identik dengan “ guru galak”?.
Menjadi guru memanglah sulit. Marah itu adalah naturi
setiap manusia. Dan, ada saatnya kemarahan demikian baik dan benar. Tapi
alangkah kejamnya guru kalau marah menjadi kesukaan, main pukul menjadi
satu-satunya tindakan pendisiplinan. Berhentilah marah ketika rasa marah itu
yang mengendalikan. Jika tidak, siswa nantinya mencap guru, guru galak. Guru
harus senantiasa waspada ketika hati yang menyayangi menjadi kering. Bila ada
guru yang apatis terhadap siswa, keguruan guru macam ini sudah mati. Terkhusus
untuk guru matematika, kita harus senantiasa ingat, tidak semua siswa itu
memiliki kecerdasan logis-matematis seperti yang kita harapkan. Guru itu harus
senantiasa belajar. Tampaknya benar adanya, bahwa lebih banyak yang kita harus
pelajari dari siswa dari pada yang kita ajarkan/belajarkan.
Bila kita cermati, arti
matematika sendiri ialah ilmu menghitung, ratu dan pelayan ilmu, ilmu deduktif,
ilmu berpikir abstrak dan masih banyak lagi penjelasannya. Sehingga bisa
dibilang, matematika merupakan pelajaran yang amat penting dan tidak gampang.
Lalu kenapa guru matematika suka marah-marah dan
selalu di cap muridnya “galak”?. Apakah karena umur? Karena bila kita lihat
kebanyakan guru matematika ialah seorang yang bisa dibilang kepala tiga ke
atas. Bukan, bila kita bandingkan dengan ibu kita yang umurnya juga segitu, ia tidak galak, tapi mengapa guru
matematika galak?
Banyak pikiran, guru matematika memang mesti
memikirkan banyak hal bagaimana ia menagajar muridnya. Tetapi tidak hanya guru
matematika saja, guru lain juga begitu bukan, apalagi bapak kita sendiri,
setiap hari ia mesti memikirkan mau menafkahi keluarganya dengan apa.
Lalu apa alasan sebenarnya? Alasan guru matematika
galak ialah karena guru matematika sulit dalam menahan emosi. Pelajaran
matematika merupakan pelajaran yang butuh-butuh kesabaran untuk mengajar
muridnya karena, selain menanamkan konsep kepada anak, pembelajaran ini juga
tidak bisa dipahami dengan menghapal saja, sehingga pelajaran ini bukanlah
pelajaran yang gampang, terlebih muridnya itu malas belajar dan enggan
mendengarkan guru. Makanya, guru matematika suka memarahi muridnya, itu semua
karena perilaku murid yang gemar mengobrol dan tidak mendengarkan guru. Padahal
matematika itu pelajaran yang penting dan pelajaran matematika itu harus
dipelajari bertahap. Sehingga, bila murid tidak memahami pelajaran matematika
hari ini kemudian baru mendegarkan pelajaran matematika dari gurunya minggu
depannya, itu akan membuat si anak tidak mengerti karena ia belum dapat
dasarnya. Kalau begitu, bagaiman guru matematika tidak marah dan galak? Itu
semua karena perilaku kita juga. Bila kita menjadi siswa yang mau mendengarkan
dengan baik apa yang disampaikan guru, maka tidak mungkin guru tersebut
memarahi kita. Maka dari itu sebaiknya jangan menjudge guru matematika itu
“Galak”, karena kita sendirilah yang membuatnya di cap seperti itu.
Terimakasih.
Filsafat
abad ke -20
(Rangkuman dari hal
34-64)
Filsafat yang
diterangkan dalam abad 20, ialah filsafat barat pada permulaan abad ke-20.
Namun, bukan sejak tahun 1900 filsafat baru ini dimulai. Dalam filsafat,
tiap-tiap waktu bergabung bermacam corak. Corak idealisme dan realisme,
rasionalisme dan irasionalisme, optimisme dan pesinisme. Apabila kita hendak membedakan alam pikiran
pada suatu waktu dengan alam pikiran pada waktu lain, harusnya kita menyelidiki
sifat mana yang memegang peran penting dan mana yang kurang penting. Misalnya,
jangan kita mengatakan bahwa alam pikiran abad-19 bersifat materialis atau
mekanis dan alam pikiran abad ke-20 bersifat realis dan irasionalis. Akan
tetapi, maksudnya ialah bada abad ke-19 lebih banyak pokok yang dipikirkan
tentang pokok-pokok tertentu daripada pokok-pokok yang lain yang lebih banyak
dipikirkan pada abad ke-20.
Dalam abad ke-19 orang
dengan teratur memikirkan alam, sedangkan dalam abad ke-20 lebih condong ke
manusia. Namun tidak maksudnya ketika abad ke-20, manusia tidak memikirkan
alam, yang dimaksud adalah sudut pandang yang diambil dengan cara berbeda atau
bila dilihat dari kacamata lain.
Filsafat tidaklah
berlaku di daerah yang abstrak yang tidak dipengaruhi hidup. Pendirian yang dipegang oleh beberapa idealis
bahwa filsafat dapat dianggap lepas dari waktu tidaknlah benar. Demikian pula,
kaum materialis yang menegatakan bahwa gambaran kerohanian dari suatu susunan
tertentu dari masyarakat. Oleh karena itu perubahn filsafat harus dilihat dari
sudut perubahan-perubahan yang terdapat pada masyarakat.
Ada dua sistem yang tidak begitu berarti lagi pada zaman
sekarang ini, yaitu 1)positivisme, dan 2) materialisme. Positivisme mengatakan,
bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh pengalaman. Jadi, semua pengetahuan
adalah pengetahuan dari pengalaman(empirisme). Pandangan demikian menurut
sassen sudah berakhir pada abad ke-19. Namun penulis, tidak sependapat
dengannya,. Neo-positivisme memegang peranan penting dalam filsafat abad ke-20.
Filsafat ini dari Eropa masuk ke Amerika dan dalam tahun-tahun terakhir sangat
berpengaruh di Amerika. Tidak benar seperti yang dikatakan sassen bahwa
materialisme sebenarnya adalah suatu asas kuno yang berpengaruh pada abad
ke-19, tetapi pada zaman sekarang tak laku lagi. Barangkali di Eropa-Barat
filsafat ini terdesak, karena di rusia dan daerah yang masuk lingkungan
kekeuasaanya filsafat ini masih merupakan filsafat resmi dan di Amerika pun
materialisme masih mendapat temapat subur.
Dalam filsafat barat
abadke-20 terlihat tendensi tak percaya terhadap akal sebagai fungsi dan daya
kebenaran. Maka dari itu, orang akan mencari sumber lain, yang dapat
menjelaskan kenyataan. Bukan intelek lagi yang dipakai, melainkan misalnya
intuisi yang dianggap menjangkau kenyataan dengan landsung berbeda dengan akal
yang menempuh jalan berliku-liku menggunakan pengertian-pengertian.
Tindakan-tindakan praktis dihargai lebih tinggi daripada teori. Peristiwa ini
dinamakan “krisis rasionalisme”. Peristiwa ini merupakan satu unsur
pentingfilsafat aba ke-20.
Pabila kita mengatak
krisis rasionalisme maka, hal in berarti juga krisis subjektivisme yang
merupakan adalah suatu krisis idealisme pula.
Athur Liebert
berpendapat bahwa yang dikatakan fiilsafat modern adalah filsafat dari tahun
1600 sampai dengan tahun 1900. Dan
Bochenski berpendapat, filsafat modern ini adalah masuk filsafat kuno.
Yang dianggap sebagai
asas-asas pokok dari filsafat brat modern, ialah 1) meknisme dan
2)Subjektivisme. Teori cita pembawaan dipakai juga oleh ahli-ahli pikir seperti
Spinoza(1632-1677) dan Leibniz(1646-1712) dan Hume(1711-1776). Hume membenarkan
mekanisme, namun dihubungkan dengan subjektivisme. Hume berpendapat bahwa
hukum-hukum yang berlaku umum ialah asosiasi-asosiasi kesan-kesan yang
disebaban oleh kebiasaan. Hukum-hukum
ini tidak bersifat objektif. Smuanya dianggap Hume serba-bimbang. Hume sendiri
ialah penganut skeptisisme, yaitu ajaran serba-bmbang.
Pengetahuan keilmuan
yang terjadi dari engalaman dan teori berlaku terhadap dunia empiris, terhadap
seluruh peristiwa. Persoalan-persoalan metafisika seperti adanya Tuhan,
kekekalan, nyawa, dan kebebasan kemauan tak dapat diselesaikan dengan intelek,
karena tak dapat dicapai dengan akal karena itu merupakan suatu kemustahilan.
Kant yang berbicara hal ini dalam zamannya dinamakan “penghancur segalanya”(
Allezesmalmer). Ia beranggapan, bahwa metafisika yang tradisional adalah suatu
kemustahilan dan pengetahuan hanya terbatas dalam bidang pengalaman saja.
Memang tak dibantah bahwa aliran-aliran pokok filsafat abad 19 bersumber dari
kant. Dari kant ada dua jalan yang terbuka. Jalan pertama menyelidiki kenyataan
dengn caracara ilmu. Dalam hal ini filsafat merupakan sintesis hasil ilmu-ilmu
khusus. Haisl-hasil ini harus dikumpulkan dalam suatu sistem. Tujuannya
mendapat gambaran dunia secara ilmu. Jaln kedua ialah pada proses-proses yang
merupakan dasar-dasar pembentukan dari budi untuk menegaskan kenyataan. Aliran
pertam menjelma menjadi positivisme dan materialisme dan filsafat menjadi
sintesis atau teori ilmu. Aliran kedua menjelma menjadi idealisme mutlak(
Fichte 1762-1814, Hegel 1790-1831), yang menghasilkan sistem-sistem yang
menggambarkan bahwa kenyataan adalah hasil dai suatu gerakan pikiran.
Kejadian-kejadian
diatas menjelma pula suatu aliran lain dan dalam banyak hal menjadi ciri bagi
filsafat abad ke-20, yaitu pembaruan realisme dan metafisika. Bochenski berpendapat bahwa yang dinamakan
“filsafat dewasa ini “ adalah khusus filsafat mulai dari perang dunia I sampai
tak lama sesudah itu. Alam pikiran antara dua perang dunia bercampur bermacam
aliran yang berkuasa dari zaman lampau. Yang terpenting diantaranya adalah
1)Fenomenologi, 2) realisme baru, 3) irasionalisme yang mempunyai dasar
vitalisme dan pernah juga dinamakan filsafat hidup.
Filcdewasa ini dibagi
dalam enam pikiran yaitu 1) empirisme atau filsafat materi, 2) Idelaisme dan
corak Kant atau hegel, 3) Filsafat Hidup, dan 4) fenomenologi atau filsafat
hakikat. Dua lagi yaitu 5) filsafat eksistensi dan 6) metafisika tentang ujud.
Sumber:
Prof.Dr.R.F.Beerling. Filsafat Dewasa Ini
Sepenggal
Kisah Wali di sekitar Wali Songo
Sebuah batu di desa Gapuro,Gresik, Jawa Timur, terukir
kaligrafi yang menjadi tanda sejarahnya. Batu itu ialah nisa makam almarhum
Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8
April 1419.
Di latar nisan itu tersurat ayat
suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat
Kursi. Begitu juga dengan rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik
Ibrahim yang bertuliskan: ''Ia guru yang
dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang
yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena
mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.''
Demikian terjemahan di nisan pualam
makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah
tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau disebut sebagai anggota Wali
Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J.
Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama
dipandang sebagai wali di antara para wali.
''Ia seorang mubalig paling awal,''
tulis Drewes dalam bukunya, New Light on
the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, melekat di depan
nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan
bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang
punya derajat tinggi.
Sekalipun Malik Ibrahim tidak
termasuk dalam jajaran Wali Songo (menurut Hoessein), jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah
Wali Songo berasal dari kata ''wali'' dan ''songo''. Kata wali berasal dari
bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah --alias kekasih Tuhan. Kata
songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.
Wali dibagi yaitu, ada anggota Wali
Songo yang terdiri dari sembilan orang. Dan ada wali yang bukan anggota “dewan”
Wali Songo. Konsep ''dewan wali'' berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari
paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan
dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.
Figur para wali, sebagaimana
dikisahkan dalam babad dan ''kepustakaan'' tutur, selalu dihubungkan dengan
kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ''kesepakatan''
tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam
pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.
Pada umumnya orang berpendapat, yang
termaksud ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan
Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif
Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan
Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden
Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.
Namun, komposisi Wali nan Sembilan
ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim
dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia
itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai
anggota Wali Songo.
Sayang, Soekmono tak menyodorkan
argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya
menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati
oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing
kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman
orang dan menggoyahkan syariat Islam.
Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.
Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.
buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa.
''Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari
berdakwah,'' kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu
menambahkan.
Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.
Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ''Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,'' tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.
Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ''Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,'' tulis De Graaf, yang dijuluki ''Bapak Sejarah Jawa''.
Selain Sunan Tembayat --menurut
versi Babad Tanah Jawi-- Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng
namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam
pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi
setelah menyadap nira.
Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.
Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.
Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.
Itulah beberapa penggalan cerita seputar wali diantara para wali songo. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Terimakasih. Semoga artikel ini dapat mmembantu pengetahuan kita seputar wali lainnya.
Sumber:
https://id-id.facebook.com/notes/wali-songo/sepenggal-cerita-wali-songo-maulana-malik-ibrahim/37894669927

