Posted by : Unknown
Rabu, 10 Desember 2014
Akal merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dari
mahluk lain. Manusia membentuk akal dari pendidikan. Dengan pendidikan Akal
manusia bertambah dan makin meluas . Dari akal, muncul berbagai ilmu
pengetahuan, karena pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu
yang telah ada. Dari pengetahuan, manusia dapat menjangkau jauh dari sesuatu
yang hanya terlihat (empiris), sesuatu di luar indera dan menemukan sebuah kebenaran
filsafat.
Dengan tingkat pemahaman manusia yang beragam
menyebabkan perbedaaan pendapat tentang kebenaran yang di anut. Dan hal ini
menimbulkan berbagi aliran dalam dunia filsafat, salah satunya adalah filsafat
materialisme yang lebih menekankan pada kenyataan dan empirisme.
Aliran
pemikiran materialisme dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa
sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga
disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan
satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa /ruh tidak
berdiri sendiri. Tokoh lainnya ialah Liudwig Feuerbach
(1804-1872 M) yang menurutnya hanya alamlah yang ada, manusia juga termasuk
alam. Materialisme adalah asal atau hakikat dari segala sesuatu, dimana asal
atau hakikat dari segala sesuatu ialah Materi.
Karena itu materialisme mempersoalkan metafisika, namun metafisikanya adalah
metafisika materialism.[1] Materialisme
menekankan keunggulan faktor-faktor material atas spiritual dalam metafisika,
teori nilai, fisiologi, efistemologi, atau penjelasan historis. Maksudnya,
suatu keyakinan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu selain materi yang sedang
bergerak. Pada sisi yang lain, materialisme ialah sebuah pernyataan yang
menyatakan bahwa pikiran ( roh, kesadaran, dan jiwa ) hanyalah materi yang
sedang bergerak. Materi dan alam semesta sama sekali tidak memiliki karakteristik-karakteristik
pikiran dan tidak ada entitas-entitas nonmaterial. Realitas satu-satunya adalah
materi. Setiap perubahan bersebab karena materi atau natural dan dunia fisik
Materialisme dalam arti kata luas yang mengakui kekhususan alam rohani dan
jiwa,tetapi memandangnya sebagai semacam alam kebendaan yang halus sekali
sifatnya,lain daripada alam kebendaan biasa atau kasar. Pandangan ini juga
disebut materialism dualitas (atau bahkan pluralitas) seperti dianut oleh
Demokritos.yang membedakan atom-atom jiwa daripada atom-atom biasa,atau mazhab
Stoa,yang berpendapat bahwa segala sesuatu mempunyai struktur badani, namun
juga menerima adanya semacam “angin” ilahi yang menjiwai segala sesuatu.
Sedangkan dalam arti sempit, Materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa
semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak.
Semua proses alam, baik anorganik atau organik telah dipastikan dan dapat
diramalkan jika segala fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui
Materialisme
dibagi menjadi beberapa aliran
tergantung metode yang yang digunakan, yaitu:
1) Materialisme Mekanik
Materialisme mekanik adalah aliran
filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini
mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah, geraknya
itu adalah gerakan yang mekanis artinya, gerak yang tetap selamanya atau gerak
yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin yang tanpa perkembangan atau
peningkatan secara kualitatif.
Materialisme mekanik tersistematis
ketika ilmu tentang meknika mulai berkembang dengan pesat, tokoh-tokoh yang
terkenal sebagai pengusung materialisme pada waktu itu ialah Demokritus (±
460-370 SM), Heraklitus (± 500 SM) kedua pemikir Yunanai ini berpendapat bahwa
aktivitas psikik hanya merupakan gerakan atom-atom yang sangat lembut dan mudah
bergerak.
Mulai abad ke-4 sebelum masehi
pandangan materialisme primitif ini mulai menurun pengaruhnya digantikan dengan
pandangan idealisme yang diusung oleh Plato dan Aristoteles. Sejak itu, ± 1700
tahun lamanya dunia filsafat dikuasai oleh filsafat idealisme.
Baru pada akhir jaman feodal,
sekitar abad ke-17 ketika kaum borjuis sebagai klas baru dengan cara
produksinya yang baru, materialisme mekanik muncul dalam bentuk yang lebih
modern karena ilmu pengetahuan telah maju sedemikian pesatnya. Pada waktu itu
ilmu materialisme ini menjadi senjata moril / idiologis bagi perjuangan klas
borjuis melawan klas feodal yang masih berkuasa ketika itu. Perkembangan
materialisme ini meluas dengan adanya revolusi industri, di negeri-negeri
Eropa. Wakil-wakil dari filsafat materialis pada abad ke-17 adalah Thomas
Hobbes(1588-1679 M), Benedictus Spinoza (1632-1677 M) dsb. Aliran filsafat
materialisme mekanik mencapai titik puncaknya ketika terjadi Revolusi Perancis pada
abad ke-18 yang diwakili oleh Paul de Holbach (1723-1789 M), Lamettrie
(1709-1751 M) yang disebut juga materialisme Perancis.
Materialisme Perancis dengan tegas
mengatakan materi adalah primer dan ide adalah sekunder, Holbach mengatakan :
“materi adalah sesuatu yang selalu dengan cara-cara tertentu menyentuh panca
indera kita, sedang sifat-sifat yang kita kenal dari bermacam hal-ichwal itu
adalah hasil dari bermacam impresi atau berbagai macam perubahan yang terjadi
di alam pikiran kita terhadap hal-ichwal itu”. Materialisme Perancis menyangkal
pandangan religus tentang penciptann dunia (Demiurge), yang sebelum itu
menguasai alam pikiran manusia.. Bahkan secara terang-terangan Holbach
mengatakan “nampaknya agama itu diadakanhanya untuk memperbudak rakyat dan
supaya mereka tunduk dibawah kekuasaan raja lalim. Asal manusia merasa dirinya
didalam dunia ini sangat celaka, maka ada orang yang datang mengancam mereka
dengan kemarahan Tuhan, memakasa mereka diam dan mengarahkan pandangan mereka
kelangit, dengan demikian mereka tidak lagi dapat melihat sebab sesungguhnya
daripada kemalangannnya itu”.
Materialisme Perancis adalah
pandangan yang menganggap segala macam gerak atau gejala-gejala yang terjadi
dialam itu dikuasai oleh gerakan mekanika, yaitu pergeseran tempat dan
perubahan jumlah saja. Bahkan manusia dan segala aktivitetnya pun dipandang
seperti mesin yang bergerak secara mekanik, ini tampak jelas sekali dalam karya
Lamettrie yang berjudul “Manusia adalah mesin”. Mereka tidak melihat adanya
peranan aktif dari ide atau pikiran terhadap materi. Pandangan ini adalah ciri
dan sekaligus kelemahan materialisme Perancis.
2) Materialisme metafisik
Materialisme metafisik mengajarkan
bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya
seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena faktor
luar atau kekuatan dari luar. Gerak materi itu disebut gerak ekstern atau gerak
luar. selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai
hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Materialisme metafisik diwakili oleh
Ludwig Feurbach, pandangan materialisme ini mengakui bahwa adanya “ide absolut”
pra-dunia dari Hegel , adanya terlebih dahulu “kategori-kategori logis” sebelum
dunia ada, adalah tidak lain sisa-sisa khayalan dari kepercayaan tentang adanya
pencipta diluar dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasakan oleh panca
indera kita adalah satu-satunya realitet.
Tetapi materialisme metafisik
melihat segala sesuatu tidak secara keseluruhannya, tidak dari saling
hubungannya, atau segala sesuatu itu berdiri sendiri. Dan segala sesuatu yang
real itu tidak bergerak, diam.
Pandangan ini mengidamkan seorang
manusia suci atau seorang resi suci yang penuh cinta kasih. Feurbach berusaha
memindahkan agama lama yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan menjadi
sebuah agama baru yaitu hubungan cinta kelamin antara manusia dengan manusia.
Seperti kata Feurbach: “Tuhan adalah bayangan manusia dalam cermin”, Feurbach
menentang teologi, dalam filsafatnya atau “agama baru”-nya Feurbach mengganti
kedudukan Tuhan dengan manusia, pendeknya manusia itu Tuhan. Feurbach tidak
melihat peran aktif dari ide dalam perkembangan materi, yang materi bagi
Feurbach adalah misalnya, manusia (baca: materi, pen) sedangkan dunia dimana
manusia itu tinggal tidak ada baginya, atau menganggap sepi ativitet yang
dilakukan manusia/materi tersebut.
Materialisme metafisik menganggap
kontradiksi sebagai hal yang irasionil bukan sebagai hal yang nyata, disinilah
letak dari idealisme Feurbach. Pandangannya bertolak daripada materialisme
tetapi metode penyelidikan yang dipakai ialah metafisis. Metode metafisis
inilah yang menjadi kelemahan terbesar bagi materialisme Feurbach.
3) Materialisme dialektis
Materialisme dialektis adalah aliran
filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis. Aliran ini
mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya,
saling mempengaruhi, dan saling bergantung satu dengan lainnya. Gerak materi
itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk
yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral. Tokoh-tokoh pencetus filsafat
ini adalah Karl Marx (1818-1883 M), Friedrich Engels (1820-1895 M).
Gerakan materi itu adalah gerak
intern, yaitu bergerak atau berubah karena dorongan dari faktor dalamnya
(motive force-nya). Yang disebut “diam” itu hanya tampaknya atau bentuknya,
sebab hakikat dari gejala yang tampaknya atau bentuknya “diam” itu isinya tetap
gerak, jadi “diam” itu juga suatu bentuk gerak.
Metode yang dipakai adalah dialektika
Hegel, Marx mengakui bahwa orang Yunani-lah yang pertama kali menemukan metode
dialektika, tetapi Hegel-lah yang mensistematiskan metode tersebut. Tetapi oleh
Marx dijungkir balikkan dengan bersandarkan materialisme. Marx dan temannya
Engels mengambil materialisme Feurbach dan membuang metodenya yang metafisis
sebagai dasar dari filsafatnya. Dan memakai dialektika sebagai metode dan
membuang pandangan idealis Hegel.
Dialektika Hegel menentang dan
menggulingkan metode metafisis yang selama beabad-abad menguasai lapangan
filsafat. Hegel mengatakan “yang penting dalam filsafat adalah metode bukan
kesimpulan-kesimpulan mengenai ini dan itu”. Ia menunjukkan kelemahan-kelemahan
metafisika :
1.Kaum metafisis memandang sesuatu bukan dari
keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, tetapi dipandangnya sebagai
sesuatu yang berdiri sendiri, sedangkan Hegel memandang dunia sebagai badan
kesatuan, segala sesuatu didalamnya terdapat saling hubungan organic.
2.Kaum metafisis melihat segala sesuatu tidak dari
geraknya, melainkan sebagai yang diam, mati dan tidak berubah-ubah, sedang
Hegel melihat segala sesuatu dari perkembangannya, dan perkembangannya itu
disebabkan kontradiksi internal, kaum metafisik berpendapat bahwa: “segala yang
bertentangan adalah irasionil”. Mereka tidak tahu bahwa akal (reason) itu
sendiri adalah pertentangan.
3.Sumbangan Hegel yang terpenting adalah kritiknya
tentang evolusi vulgar, yang pada ketika itu sangat merajalela, dengan
mengemukakan teorinya tentang “lompatan” (sprong) dalam proses perkembangan.
Sebelum Hegel sudah banyak filsuf yang mengakui bahwa dunia ini berkembang, dan
meninjau sesuatu dari proses perkembangannya, tetapi perkembangannya hanya
terbatas pada perubahan yang berangsur-angsur (perubahan evolusioner) saja.
Sedang Hegel berpendapat dalam proses perlembangan itu pertentangan intern
makin mendalam dan meruncing dan pada suati tingkat tertentu perubahan
berangsur-angsur terhenti dan terjadilah “lompatan”. Setelah “lompatan” itu
terjadi, maka kwalitas sesuatu itu mengalami perubahan.
Akan tetapi dialektika Hegel ini
diselimuti dengan kulit mistik, reaksioner, yaitu pandangan idealismenya
sehingga dia memutar balikkan keadaan sebenarnya. Hukum tentang dialektika
yaitu hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku
didunia ini dipandangnya bukan seabagai suatu hal yang obyektif, yang primer
melainkan perwujudan dari “ide absolut”. Kulitnya yang reaksioner inilah yang
kemudian dibuang oleh Marx, dan isinya yang “rasionil” diambil serta
ditempatkan pada kedudukan yang benar. Sedangkan jembatan antara Marx dan Hegel
adalah Feurbach, Materialisme dijadikan sebagai dasar filsafatnya tetapi
Feurbach melihat gerak dari penjuru idealisme yang membuat ia berhenti dan
membuang dialektika Hegel. Membuat hasil pemeriksaannya terpisah dan abstrak,
Marx membuang metode metafisisnya, dan menggantinya dengan dialektika, sehingga
menghasilkan sebuah system filsafat baru yang lebih kaya dan lebih sempurna
dari pendahulunya.
Karakteristik umum materialisme pada abad delapan
belas berdasarkan pada suatu asumsi bahwa realitas dapat dikembangkan pada
sifat-sifat yang sedang mengalami perubahan gerak dalam ruang
(Randal,et.al,1942). Asumsi tersebut menunjukkan bahwa :
1) Semua sains seperti biologi,kimia,psikologi,fisika,sosiologi,ekonomi,dan
yang lainnya ditinjau dari dasar fenomena materi yang berhubungan secara kausal
(sebab akibat).jadi,semua sains merupakan cabang dari sains mekanika;
2) Apa yang dikatakan “jiwa” (mind) dan
segala kegiatannya (berpikir,memahami) adalah merupakan suatu gerakan yang
kompleks dari otak,system urat saraf, atau orga-organ jasmani yang lainnya.
3) Apa yang disebut dengan nilai dan
cita-cita,makna dan tujuan hidup, keindahan dan kesenangan, serta kebebasan,hanyalah
sekedar nama-nama atau semboyan, symbol subjektif manusia untuk situasi atau
hubungan fisik yang berbeda.
Untuk pendidikan, materialisme memandang bahwa proses
belajar merupakan proses kondisionisasi lingkungan serta menekankan pentingnya
keterampilan dan pengetahuan akademis empiris sebagai hasil kajian sains atau
alam, sedangkan perilaku sosial sebagai hasil belajar.
Materialisme pada dasarnya tidak menyusun konsep
pendidikan secara eksplisit. Bahkan menurut Henderson (1959),materialism belum
pernah menjadi penting dalam menentukan sumber teori pendidikan.
Menurut Waini Rasyidin (1992), terdapat filsafat
positivisme yaitu sebagai cabang dari materialisme lebih cenderung menganalisis
hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi upaya dan hasil pendidikan secara
factual. Meimlih aliran positivisme
berarti menolak filsafat pendidikan dan mengutamakan sains pendidikan.
Menurut Behaviorisme, apa yang disebut dengan kegiatan
mental kenyataannya tergantung pada kegiatan fisik,yang merupakan berbagai
kombinasi dan materi dalam gerak. Gerakan fisik yang terjadi dalam otak,kita
sebut berpikir,dihasilkan oleh
peristiwa lain dalam dunia materi,baik materi yang berada dalam tubuh manusia
maupun materi yang berada diluar tubuh manusia. Behaviorisme yang berakar pada
positivisme dan materialisme telah populer dalam menyusun teori
pendidikan,terutama dalam teori belajar, yaitu apa yang disebut dengan “conditioning
theory”,yang dikembangkan oleh E.L.Thomdike dan B.F.Skinmer.
Menurut behavorisme,perilaku manusia adalah hasil
pembentukan melalui kondisi lingkungan (seperti contoh anak dan kucing diatas).
Yang dimaksud dengan perilaku adalah hal-hal yang berubah dapat diamati,dan
dapat diukur (materialisme dan positivisme).
Dalam pendidikan ,Menurut Power (1982),
implikasi aliran filsafat materialisme ialah sebagai berikut:
1. Temanya yaitu manusia yang baik dan efisien
dihasilkan dengan proses pendidikan terkontrol secara ilmiah dan seksama.
2.Tujuan pendidikan merupakan perubahan perilaku,
mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk tanggung jawab hidup
sosial dan pribadi yang kompleks.
3. Isi kurikulum pendidikan yang mencakup
pengetahuan yang dapat dipercaya (handal), dan diorganisasi, selalu berhubungan
dengan sasaran perilaku.
4. Metode, semua pelajaran dihasilkan dengan
kondisionisasi (SR conditioning), operant condisioning, reinforcement,
pelajaran berprogram dan kompetisi.
5. Kedudukan siswa tidak ada kebebasan,
perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar, pelajaran sudah dirancang, siswa
dipersiapkan untuk hidup, mereka dituntut untuk belajar.
Sumber-Sumber:
http://muslimahasy-syauq.blogspot.com/2013/04/aliran-materialisme-dalam-pendidikan.html
http://cahayaibnuadam.blogspot.com/2012/02/filsafat-umum-idealisme-materialisme.html
http://sibuba.wordpress.com/2012/01/03/filsafat-materialisme/
Hartoko, Dick . 1980. ”Orientasi
didalam Filsafat”. Jakarta: PT.Gramedia
Praja, Juhaya S. 2003.
”Aliran-Aliran Filsafat dan Etika”. Jakarta: Kencana
Usiono.”Filsafat Pendidikan”. Medan:
Perdana Publishing.
