Posted by : Unknown
Rabu, 10 Desember 2014
Baru-baru
ini, menjadi topik pembicaraan di media sosial perihal mengenai kota Bekasi.
Perbincangan ini bukanlah merupakan suatu hal bagus untuk rakyat bekasi, karena
perbincangan yang dibahas ialah seputar keburukan kota bekasi. Kota bekasi
dijadikan bahan ejekan dan bullian oleh para pengguna media sosial. Apakah
memang benar kota bekasi seperti itu? Bagaimana Bekasi itu sendiri dan
bagaimana proses terbentuknya hingga menjadi seperti sekarang?
Berdasarkan
asal usulnya, Penelusuran Poerbatjaraka berbicara
bahwa Kata “Bekasi” secara filologis berasal dari kata Candrabhaga, Candra berarti bulan dan Bhaga berarti bagian. Kata ini berasal dari bahasa sansekerta dan
jawa kuno. Kata Candrabhaga secara estimologis berarti bagian dari bulan.
Pelafalannya kata Candrabhaga kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi
yang dalam pengucapannya sering disingkat Bhagas .Kemudian, karena pengaruh bahasa Belanda, penulisannya
menjadi Bacassie. Kata Bacassie
kemudian berubah menjadi Bekasi
sampai dengan sekarang.
Candrabhaga merupakan bagian dari
Kerajaan Tarumanagara, yang
berdiri sejak abad ke 5 Masehi. Ada 7 prasasti yang menyebutkan adanya kerajaan
Tarumanagara yang dipimpin oleh Maharaja
Purnawarman, yakni : Prasasti
Tugu (Cilincing, Jakarta), Prasasti
Ciaruteun, Prasasti Muara
Cianteun, Prasasti Kebon Kopi,
Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi (ke enam prasasti ini ada di Daerah
Bogor), dan satu prasasti di daerah Bandung Selatan (Prasasti Cidangiang).
Diduga bahwa
Bekasi merupakan salah satu pusat Kerajaan Tarumanagara (Prasasti Tugu,
berbunyi : ..dahulu kali yang bernama Kali Candrabhaga digali oleh Maharaja
Yang Mulia Purnawarman, yang mengalir hingga ke laut, bahkan kali ini mengalir
disekeliling istana kerajaan. Kemudian, semasa 22 tahun dari tahta raja yang
mulia dan bijaksana beserta seluruh panji-panjinya menggali kali yang indah dan
berair jernih, “Gomati” namanya. Setelah sungai itu mengalir disekitar tanah
kediaman Yang Mulia Sang Purnawarman. Pekerjaan ini dimulai pada hari yang
baik, yaitu pada tanggal 8 paro petang bulan phalguna dan diakhiri pada tanggal
13 paro terang bulan Caitra. Jadi, selesai hanya 21 hari saja. Panjang hasil
galian kali itu mencapai 6.122 tumbak. Untuk itu, diadakan selamatan yang
dipimpin oleh para Brahmana dan Raja mendharmakan 1000 ekor sapi…). Tulisan
dalam prasasti ini menggambarkan perintah Raja Purnawarman untuk menggali kali
Candrabhaga, yang bertujuan untuk mengairi sawah dan menghindar dari bencana
banjir yang kerap melanda wilayah Kerajaan Tarumanagara.
Setelah kerajaan Tarumanagara runtuh
pada abad 7, kerajaan yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap Bekasi adalah
Kerajaan Padjadjaran yang
terlihat dari situs sejarah Batu Tulis
(di daerah Bogor). Sutarga lebih
jauh menjelaskan, bahwa Bekasi merupakan bagian dari wilayah Kerajaan
Padjadjaran dan merupakan salah satu pelabuhan sungai yang ramai dikunjungi
oleh para pedagang. Bekasi menjadi kota yang sangat penting bagi Padjadjaran,
selanjutnya dijelaskan bahwa: “..Pakuan adalah Ibukota Kerajaan Padjadjaran
yang baru. Proses perpindahan ini didasarkan atas pertimbangan geopolitik dan
strategi militer. Sebab, jalur sepanjang Pakuan banyak dilalui aliran sungai
besar yakni sungai Ciliwung dan Cisadane. Oleh sebab itu, kota-kota pelabuhan
yang ramai ketika itu akan mudah terkontrol dengan baik seperti Bekasi, Karawang, Kelapa, Tanggerang
dan Mahaten atau Banten Sorasoan…”
Kedudukan
Bekasi tetap menempati posisi strategis dan tercatat dalam sejarah
masing-masing kerajaan. Terakhir tercatat dalam sejarah, kerajaan yang
menguasai Bekasi selanjutnya adalah Kerajaan
Sumedanglarang, yang menjadi bagian dari Kerajaan Mataram.
Bekasi kemudian memasuki masa
pendudukan Belanda. Pada saat pasukan Mataram berangkat ke Batavia pada
pertengahan Mei 1629. 20 Juni 1629, pasukan infantri yang dipimpin oleh Kyai Adipati Juminah, Kyai Adipati Purbaya
dan Kyai Adipati Puger yang juga
dibantu oleh Tumenggung Singaranu, Raden Aria Wiranatapada, Tumenggung
Madiun dan Kyai Sumenep, menyerbu Batavia yang
saat itu sedang di tangan VOC. Sepanjang rute perjalanan ke Batavia sudah
dikirim terlebih dulu para punggawa yang bertugas menyediakan suplai logistik
pasukan. Sejarah mencatat daerah suplai logistik pasukan Mataram berada
disekitar wilayah Tegal, Cirebon,
Indramayu, Karawang dan Bekasi (base camp di Bekasi berada di
daerah Babelan).
Batavia
dikepung dari segala penjuru, pasukan Mataram yang pulang dari Banten ikut
menutup Batavia dari arah Barat (Kyai Rangga), tetapi sejarah mencatat bahwa
walaupun dikepung dari segala penjuru ternyata Belanda dapat mempertahankan
Batavia bahkan dapat memaksa mundur pasukan Mataram ke daerah pedalaman.
Kegagalan ini, menyebabkan sebagian besar pasukan Mataram memilih untuk tidak
kembali ke Mataram, karena Sultan Agung sudah menurunkan titah bahwa “…akan
membunuh (dipenggal kepalanya) pasukan yang gagal melakukan penyerangan, bila
kembali ke Mataram..”. Pasukan Mataram ini, kemudian menetap di
wilayah Bekasi dan membaur dengan penduduk asli, terutama di sekitar daerah
pantai dan di pedalaman.
Tentara
Mataram yang datang ke Bekasi, tidak hanya berasal dari Mataram saja (Jawa
Tengah), tetapi juga ada yang berasal dari Sumenep (Madura, Jawa Timur),
Kerajaan Padjadjaran, Galuh dan Sumedanglarang (Jawa Barat). Karenanya di
Bekasi terdapat daerah-daerah yang berbahasa Sunda, dialek Banten, Jawa atau
campuran. Kedatangan tentara Mataram selain berpengaruh terhadap bahasa,
penamaan tempat, juga ikut memperkaya khasanah budaya Bekasi, seperti Wayang Wong, Wayang Kulit, Calung, Topeng
dan lain-lain. Selain itu ada juga kesenian olah keprajuritan “ujungan” yang menampilkan keberanian,
ketrampilan dan sentuhan ilmu bela diri, khas olah raga prajurit.
Bekasi
kemudian memasuki masa pemerintahan Hindia Belanda. Bekasi, pada masa ini masuk
ke dalam Regentschap Meester Cornelis, yang terbagi atas
empat district, yaitu Meester Cornelis,
Kebayoran, Bekasi dan Cikarang. District Bekasi, pada masa penjajahan Belanda dikenal
sebagai wilayah pertanian yang subur, yang terdiri atas tanah-tanah partikelir,
system kepemilikan tanahnya dikuasai oleh tuan-tuan tanah (kaum partikelir),
yang terdiri dari pengusaha Eropa dan para saudagar Cina.
Distrik Bekasi terkenal subur yang
produktif, hasilnya lebih baik jika dibandingkan dengan distrik-distrik lain di
Batavia, distrik Bekasi rata-rata mencapai 30-40 pikul padi setiap bau,
sedangkan distrik lain hanya mampu menghasilkan padi 15-30 pikul setiap
bau’nya. Namun demikian yang menikmati hasil kesuburan tanah Bekasi adalah Sang
tuan tanah, bukanlah rakyat Bekasi.
Pada masa
kependudukan Jepang, rakyat
Bekasi mengalami kekurangan pangan, keadaan ini makin diperparah dengan adanya “Romusha” (kerja rodi). Pemerintah
militer Jepang juga melakukan penetrasi kebudayaan dengan memaksa para pemuda
Bekasi untuk belajar semangat bushido (spirit of samurai), pendewaan Tenno
Haika (kaisar Jepang).
Berlanjut
ke masa kemerdekaan, ketika
diminta mengawal dan menjaga keamanan Bung Karno dan Bung Hatta beserta
rombongan yang “bergerak” ke
Rengasdenglok, pemuda Bekasi bergerak bahu-membahu mengamankan jalur perjalanan
kedua pemimpin tersebut, berangkat maupun kembali (bagi masyarakat yang
dilintasi jalur perjalanan, memiliki nostalgia heroik’nya tersendiri, dan jalur
inilah oleh rakyat Bekasi disebut dengan Jalan Lintas Proklamator, melintas wilayah kecamatan
Kedungwaringin, Cikarang Timur, Karangbahagia.
Saat
sedang masa-masa kemerdekaan pula, Bekasi mengalami Insiden yang disebut “Insiden
Kali Bekasi”. sebuah
epos yang memiliki arti yang sangat dalam bagi Rakyat Bekasi, menggambarkan
keberanian Rakyat Bekasi, sekaligus ketragisan rakyat Bekasi. Pada saat itu, 19
Oktober 1945, meluncur kereta dari Jakarta yang mengangkut tawanan Jepang
menuju Ciater, kereta tersebut berhasil lolos dari hadangan, setibanya di
Cikampek , kereta dihentikan oleh para pejuang disana dan diperintahkan kembali
ke Jakarta. Rakyat Bekasi sudah menunggu disana, tepatnya di Stasiun Bekasi. Seluruh
gerbong kereta digeledah, dan ditemukan 90 orang tentara Jepang. Seluruh
tawanan kemudian ditelanjangi dan ditempatkan di Rumah Gadai tepi kali Bekasi.
Awak kereta sudah mencoba mencegah penggeledahan terhadap tawanan dengan
menunjukkan surat perintah jalanan dari Menteri Subardjo yang ditandatangani
Bung Karno, namun rakyat Bekasi tidak perduli, kemarahan memuncak karena
pengalaman sejarah yang begitu kejam pada masa pendudukan Jepang. Setelah
maghrib, seluruhnya digelandang ke tepi Kali Bekasi dan dibantai. Kali Bekasi
yang jernih memerah darah.
Hal ini
mengakibatkan Laksamana Maeda protes. Iameminta pertanggung-jawaban R. Soekanto
(Kapolri waktu itu) dan meminta jaminan agar peristiwa seperti itu tidak
terjadi lagi. Bunyi surat Maeda “…Kedjadian
ini boleh dibilang beloem terdjadidalam Sedjarah doenia, dan kelakoean sematjam
ini menodai perasaan soetji terhadap jang maha koeasa serta menghina terhadap
perasaan kemanoesiaan. Hal ini dipandang sebagai boekti bahwa bangsa Indonesia
dengan sikap jang demikian itoe tidak mempoenjai pendirian tegoeh di doenia
ini. Djika dibiarkan keadaan semacam itoe mungkin akan meradjalela…etc”. R. Soekanto mendjawab,
sekaligus sebagai pernyataan sikap pemerintah Republik, “… sesoenggoehnja jang mempoenjai hak
mendjalankan hoekoeman menembak mati hanjalah pemerintah Repoeblik Indonesia,
akan tetapi daerah Bekasi itoe seperti toean ketahoei ialah soeatoe daerah
dimana rakjat beloem sama sekali toendoek kepada pemerintah Repoeblik
Indonesia. Seperti dalam soerat itoe telah menjatakan penjelasan kami atas
kedjadian itoe, maka pemerintah Repoeblik Indonesia telah beroesaha sebaik2-nja
oentoek menolong 90 orang serdadoe Jepang itoe, akan tetapi oesaha itoe gagal…”.
Akibat
Insiden Kali Bekasi, Bung Karno merasa perlu untuk datang ke Bekasi (25 Oktober
1945), menenangkan rakyat Bekasi dan menghimbau agar peristiwa serupa itu tidak
terulang lagi. Setelah Presiden memberikan amanatnya, rakyat Bekasi membubarkan
diri dengan tenang.
Awal tahun 1950, para pemimpin
rakyat diantaranya R. Soepardi, KH Noer Alie, Namin, Aminudin dan Marzuki
Urmaini membentuk “Panitia
Amanat Rakyat Bekasi”,
dan mengadakan rapat raksasa di Alun-alun Bekasi (17 Januari1950) yang dihadiri
oleh sekitar
40.000 rakyat yang
datang dari berbagai pelosok Bekasi. Dalam rapat tersebut, dihasilkan beberapa
tuntutan yang terhimpun dalam “Resolusi
17 Januari”, yang antara lain menuntut agar nama Kabupaten Jatinegara
dirubah menjadi Kabupaten Bekasi, tuntutan itu ditandatangani oleh Wedana Bekasi (A. Sirad) dan Asisten Wedana Bekasi (R. Harun).
Kabupaten Bekasi secara resmi dibentuk, dan ditetapkan
tanggal 15 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Kabupaten Bekasi. Selanjutnya pada
tanggal 2 April 1960 Pusat Pemda Bekasi semula dipusatkan di Jatinegara (sekarang
Markas Kodim 0505 Jayakarta, Jakarta) dipindahkan ke gedung baru Mustika Pura
Kantor Pemda Bekasi yang terletak diBekasi Kaum JI. Jr. H. Juanda.
Dalam
perjalanannya kemudian, Bekasi mengalami perkembangan yang sangat pesat,
menjadi kawasan industri yang men”dunia”, kawasan industri yang tidak hanya
berisi pabrik-pabrik, tetapi juga didalamnya bercokol juga plaza, mal-mal,
perumahan, lapangan golf, pusat bisnis bahkan sekolah-sekolah unggulan, dari
sejak children play group sampai perguruan tinggi bertaraf nasional maupun
international. Dan yang mungkin menjadi penyebab seperti yang sekarang ini.
Seperti halnya daerah lain
di Indonesia, Bekasi yang letaknya berdampingan dengan Jakarta memiliki sejarah
perjuangan melawan penjajah yang tak kalah heroik. Perjuangan rakyat Bekasi
sempat diabadikan dalam puisi terkenal karya Chairil Anwar, Karawang-Bekasi.
Yang menarik, Bekasi masih memiliki gedung bersejarah
peninggalan pra masa kemerdekaan yang dikenal sebagai Gedung Tinggi yang
terletak di jalan Sultan Hasanudin, dekat Pasar Tambun dan Stasiun kereta api
Tambun. Gedung Tinggi ini sekarang dikenal sebagai gedung juang 45. Bangunan
berarsitektur neoklasik ini dibangun oleh tuan tanah Kow Tjing Kie pada tahun
1910.
Gedung tinggi ini merupakan salah satu gedung bersejarah yang
turut menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bekasi saat revolusi fisik. Ketika
itu daerah Tambun dan Cibarusah menjadi pusat kekuatan pasukan republik
Indonesia (RI). Perlu diketahui bahwa pada saat revolusi kemerdekaan, garis
demarkasi yang memisahkan daerah Republik Indonesia dengan daerah kekuasaan
Belanda terletak didaerah Sasak Jarang, yang sekarang menjadi perbatasan antara
kecamatan Bekasi Timur dengan Kecamatan Tambun dan merupakan perbatasan Kota
Bekasi dengan Kabupaten Bekasi.
Akibat serangan bertubi-tubi, pertahanan pasukan Belanda di
Bekasi sering ditinggalkan. Mereka kemudian memusatkan diri ke daerah Klender
Jakarta Timur. Sebaliknya, para pejuang Indonesia menjadikan gedung tinggi ini
sempat dijadikan sebagai pertahanan di front pertahanan Bekasi- Jakarta.
Sumber:
http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/13/10433661/Bekasi.Di-.Bully.Wali.Kota.Marah-marah.Saat.Apel.Pagi
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Fhumaskabbekasi.wordpress.com%2Fsejarah-singkat-bekasi%2F&ei=0BJiVN3iMc7luQT35IGoDw&usg=AFQjCNHkQgA__ZHv3sevVyI0I3Vh-6bVsw
