Posted by : Unknown
Selasa, 23 Desember 2014
Perjalanan Isra Mi’raj Rasullulah SAW dijawab oleh
sebuah Teori Fisika
Dalam sejarah
islam, ada salah satu peristiwa yaitu peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa itu
merupakan perististiwa perpindahan nabi dari mekah ke madinah dalam waktu satu
malam. Mengapa bisa hanya satu malam? Ya..itulah mujizat nabi.
Meski dibilang
mujizat, namun ada seseorang yang mencoba memecahkan bagaimana hal itu bisa
terjadi. Orang itu ialah adalah
Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Inggris, 8 Januari
1942), yang dikenal sebagai ahli fisika yang teoritis.
Dr. Stephen Hawking dikenal atas
kontribusinya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai
teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan tulisan-tulisan
terkenalnya di mana ia membicarakan teori-teori dan kosmologinya secara umum.
Tulisan-tulisan tersebut termasuk novel ilmiah ringan A Brief History of Time,
yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu
berturut-turut, suatu periode terpanjang dalam sejarah.
Dalam kondisi singularitas awal alam
semesta, Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang
tak terhingga akan menghasilkan pembesaran yang tidak dapat diramalkan.
Menurut Hawking bila kita tidak bisa
menggunakan teori relativitas pada awal penciptaan alam semesta, padahal
tahap-tahap pengembangan alam semesta dimulai dari situ, maka teori relativitas
itu juga tidak berlaku pada semua tahapnya.
“ilustrasi lubang cacing”
Di sini kita harus menggunakan
istilah mekanik kuantum. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan
menghasilkan alam semesta "tanpa pangkal ujung" karena terdapatnya
waktu virtual dan ruang kuantum.
Pada kondisi waktu nyata (waktu
manusia) waktu hanya bisa berjalan kedepan dengan kecepatan tetap, menuju nanti,
besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke
masa lalu atau masa depan.
Menurut Hawking, pada kondisi waktu
maya (waktu Tuhan) melalui "lubang cacing" kita bisa pergi ke waktu
manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.
Hal ini berarti, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking "telah ada dan sudah selesai" sejak diciptakan alam semesta. Selain itu melalui "lubang cacing" kita bisa pergi ke mana-mana tujuan di seluruh alam semesta dengan sekejap.
Jadi dalam pandangan Hawking, takdir
itu tidak bisa diubah, sudah ada sejak diciptakannya.
Dalam bahasa ilmu kalam:
Dalam bahasa ilmu kalam:
"Tinta takdir yang jumlahnya
lebih banyak dari seluruh air yang ada di tujuh samudera di bumi telah habis
dituliskan di Lauhul Mahfudz pada awal penciptaan, tidak tersisa lagi (tinta)
untuk menuliskan perubahannya walau setetes."
Menurut Dr. H.M. Nasim Fauzi, sesuai
dengan teori Stephen Hawking, manusia dengan waktu nyatanya tidak bisa
menjangkau masa depan (dan masa silam).
Tetapi bila manusia dengan kekuasaan
Allah, bisa memasuki waktu maya (waktu Allah) maka manusia melalui "lubang
cacing" bisa pergi ke masa depan yaitu masa kiamat dan sesudahnya, bisa
melihat masa kebangkitan, neraka dan shiroth serta bisa melihat surga kemudian
kembali ke masa kini , seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW, sewaktu
menjalani Isra` dan Mi`raj.
Sebagaimana firman Allah:
Dan Sesungguhnya Muhammad Telah
melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di
Sidrotil Muntaha. Dekatnya ada surga tempat tinggal. . .
(QS. An Najm / 53:13-15)
(QS. An Najm / 53:13-15)
Nampaknya dalam mengungkap
Perjalanan Isra, Teori Hawking dengan "Lubang Cacing"-nya, sama
logikanya dengan Teori Menerobos Garis Tengah Alam Semesta namun meskipun
begitu, teori Hawking, tidak semuanya bisa kita terima dengan mentah-mentah.
Seandainya benar, Rasulullah
diperjalankan Allah melalui "lubang cacing" semesta, seperti yang
diutarakan oleh Dr. H.M. Nasim Fauzi, harus diingat bahwa perjalanan tersebut
adalah perjalanan lintas alam, yakni menuju ke tempat yang kelak dipersiapkan
bagi umat manusia, di masa mendatang (surga).
Dari sinilah Rasulullah SAW
diperjalankan oleh Allah SWT ke langit.
Rasulullah pada saat dan ketika itu (saat pergi), berangkat menuju surga, dan pada akhirnya kembali ke masa ketika itu (saat pulang).
Rasulullah pada saat dan ketika itu (saat pergi), berangkat menuju surga, dan pada akhirnya kembali ke masa ketika itu (saat pulang).
Dan dengan mengambil teladan
peristiwa Isra, kita bisa ambil kesimpulan:
Manusia dengan kekuasaan Allah,
dapat melakukan perjalanan lintas alam, untuk kemudian kembali kepada waktu
normal.
Manusia yang melakukan perjalanan ke
masa depan, namun masih pada ruang dimensi alam yang sama, tidak akan kembali
ke masa silam (mungkin sebagaimana terjadi pada Para Pemuda Kahfi).
Manusia sekarang, ada kemungkinan
dikunjungi makhluk masa silam, tetapi mustahil bisa dikunjungi oleh makhluk
masa depan. Hal ini semakin mempertegas, semua kejadian di masa depan, hanya
dipengaruhi oleh kejadian di masa sebelumnya. Dalam kondisi singularitas awal
alam semesta, Teori Relativitas, karena rapatan dan kelengkungan ruang waktu yang
tak terhingga akan menghasilkan pembesaran yang tidak dapat diramalkan.
Setelah membaca apa yang diterangkan oleh Hawking di atas, bagaimana menurut kalian?
Sumber:
http://ww2.pejuangislam.com/main.php?prm=berita&var=detail&id=526
