Posted by : Unknown Rabu, 10 Desember 2014

Akal merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dari mahluk lain. Manusia membentuk akal dari pendidikan yang ditemukan oleh para ilmuwan dari zaman dahulu. Dengan pendidikan, Akal manusia bertambah dan makin meluas . Dari akal, muncul berbagai ilmu pengetahuan, karena pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu yang telah ada. Dari pengetahuan, manusia dapat menjangkau jauh dari sesuatu yang hanya terlihat (empiris), sesuatu di luar indera dan menemukan sebuah kebenaran filsafat.
Dengan tingkat pemahaman manusia yang beragam menyebabkan perbedaaan pendapat tentang kebenaran yang di anut. Dan hal ini menimbulkan berbagi aliran dalam dunia filsafat, salah satunya adalah filsafat esensialisme yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama.
Esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme, yaitu yang tumbuh dan berkembang disekitar abad 11, 12, 13 dan ke 14 Masehi. Pada zaman Renaissance itu telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayaan purbakala, terutama dizaman Yunani dan Romawi purbakala.
 Gerakan filsafat Esensialisme muncul awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel. Pada tahun 1983 mereka membentuk suatu lembaga yang di sebut "The esensialist commite for the advanced of American Education". Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada "teacher college," Columbia University, ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda. Bagley dan rekan-rekannya yang memiliki kesamaan pemikiran dalam  hal pendidikan sangat kritis terhadap praktek pendidikan progresif. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral anak muda.
Esensialisme dalam permulaannya, telah meletakkan ajarannya dalam hal-hal berikut: (a) Berkaitan dengan hal-hal esensial atau mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia di mana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya. (b) Menekankan data fakta dengan kurikulum yang tampak bercorak vocational. (c) Konsentrasi studi pada materi-materi dasar tradisional seperti: membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan musik. (d) Pola orientasinya bergerak dari skill dasar menuju skill yang bersifat semakin kompleks. (e) Perhatian pada pendidikan yang bersifat menarik dan efisien. (f) Yakin pada nilai pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu sendiri. (g) Disiplin mental diperlukan untuk mengkaji informasi mendasar tentang dunia yang didiami serta tertarik progressivism.
Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik
Aliran Esensialisme ini memandang, bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu serta kurang stabil. Karenanya pendidikan haruslah diatas pijakan nilai yang dapat mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama dan nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi.
 Metode yang digunakan aliran esensialisme  adalah metode tradisional yang menekankan pada inisiatif guru, guru haruslah orang terdidik dan dapat menguasai pengetahuan. Kelas harus berada di bawah penguasaan guru. Esensialis menginginkan agar sekolah berfungsi sebagai penyampaian warisan budaya dan sejarah yang mengandung nilai-nilai luhur para filosof sebagai ahli pengetahuan dimana nilai-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga dan kekal.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Idealisme berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang semua tata serta kesatuan atau totalitasnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dan sama dengan alam semesta atau makrokosmos, apabila berbeda pun, berbeda hanya skala atau ukurannya saja. Realisme pendukung esensialisme adalah realisme objektif yang memandang bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki intelegensi, atau kesadaran hakikatnya adalah biologi dan berkembang, kesadaran bukan primordial melainkan muncul kemudian dalam sejarah evolusi. Karena itu sering disebut lebih disebut sebagai produk alam.
Dalam pendidikan aliran esensialisme, pengetahuan hendaknya bersifat ideal dan spiritual, yang dapat menuntun kehidupan manusia pada kehidupan yang lebih mulia. Pengetahuan tidak semata-mata terikat kepada hal-hal yang bersifat fisik, tetapi mengutamakan yang bersifat spiritual.
Ciri-ciri filsafat pendidikan menurut Esensialisme oleh William C. Bagley yaitu :
1)      Minat-minat yang kuat dan tahan lama yang sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal.
2)      Pengawasan, pengarahan dan bimbingan orang yang dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang.
3)      Kemampuan untuk mendisiplin diri harus menjadi tujuan pendidikan.
4)      Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh tentang pendidikan

Bagi penganut Esensialisme pendidikan merupakan upaya untuk memelihara kebudayaan, “Edukation as Cultural Conservation”. Mereka percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Sebab kebudayaan tersebut telah teuji dalam segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan adalah esensial yang mempu mengemban hari, kini dan masa depan umat manusia.
Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti pengetahuan esensialisme. Sebab jika manusia mampu menyadari realita sebagai mikrokosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya.Berdasarkan kualitas inilah  manusia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam benda-benda, ilmu alam, biologi, sosial, dan agama.

Pendidikan menurut aliran esensialisme menempatkan nilai pada dataran yang bersifat tetap dan idealistik. Artinya, pendidik hendaknya tidak menjadikan peserta didik terombang-ambing oleh hal-hal yang bersifat relative atau temporer. Faktor peserta didik perlu dipandang sebagai agen yang ikut menentukan hakikat nilai. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniaan, serba ilmiah dan materialistis. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan realisme. Johann Amos Comenius (1592-1670) sebagai salah satu tokoh esensialisme mengatakan bahwa karena dunia ini dinamis dan bertujuan, kewajiban pendidikan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tugas utama pendidikan ialah membina kesadaran manusia akan semesta dan dunia, untuk mencari kesadaran spiritual, menuju Tuhan.

 Aliran filsafat Esensialisme adalah suatu aliran filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Menurut para esensialis, dalam dunia pendidikan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menimbulkan pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Sehingga menyebabkan pendidikan kehilangan arah. Dengan demikian pendidikan harus bersendikan  pada  nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas yaitu nilai yang memiliki tata yang jelas dan telah teruji oleh waktu.
Prinsip esensialisme menghendaki agar landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang esensial dan bersifat menuntun. Satu hal pokok yang menjadi inti dalam konsep pendidikan menurut aliran esensialisme adalah tujuan, tujuan umum aliran esensialisme ialah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Sedangkan,Tujuan pendidikannya ialah meneruskan warisan budaya dan sejarah serta mempersiapkan manusia untuk hidup. Untuk itu, tugas pertama sekolah adalah mengajarkan pengetahuan dasariah. Mengenai belajar sebagai aktifitas menerima dan mengenal dengan sungguh-sungguh nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi, serta diteruskan kepada angkatan berikutnya. Isi pendidikan esensialisme mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia.
 Kurikulum sekolah dalam aliran esenisalisme ialah semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan. kurikilum berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat; dan kurikulum bersumber pada intelek, emosi dan kemauan sehingga kurikulum mencakup tiga domain, domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotorik. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola idealisme, realisme dan sebagainya.

Referensi:

http://rudisiswoyoalfatih.blogspot.com/2012/02/aliran-filsafat-pendidikan-esensialisme.html
http://arasmunandar.wordpress.com/hakikat-aliran-filsafat-esensialisme/
http://www.wartamadani.com/2013/03/konsep-pendidikan-esensialisme-dalam.html
http://anakstain.blogspot.com/2014/03/teori-pendidikan-esensialisme-dan.html
Noorsyam, Muhammad. Pengantar Filsafat Pendidikan(Malang:IKIP Malang, 1978.)

Syam ,Muhammad Noor.Filsafat kependidikan dan dasar filsafat kependidikan Pancasila              (Surabaya : Usaha Nasional, 1988)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Copyright © orange -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan