Posted by : Unknown
Selasa, 23 Desember 2014
Sepenggal
Kisah Wali di sekitar Wali Songo
Sebuah batu di desa Gapuro,Gresik, Jawa Timur, terukir
kaligrafi yang menjadi tanda sejarahnya. Batu itu ialah nisa makam almarhum
Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8
April 1419.
Di latar nisan itu tersurat ayat
suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat
Kursi. Begitu juga dengan rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik
Ibrahim yang bertuliskan: ''Ia guru yang
dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang
yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena
mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.''
Demikian terjemahan di nisan pualam
makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah
tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau disebut sebagai anggota Wali
Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J.
Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama
dipandang sebagai wali di antara para wali.
''Ia seorang mubalig paling awal,''
tulis Drewes dalam bukunya, New Light on
the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, melekat di depan
nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan
bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang
punya derajat tinggi.
Sekalipun Malik Ibrahim tidak
termasuk dalam jajaran Wali Songo (menurut Hoessein), jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah
Wali Songo berasal dari kata ''wali'' dan ''songo''. Kata wali berasal dari
bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah --alias kekasih Tuhan. Kata
songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.
Wali dibagi yaitu, ada anggota Wali
Songo yang terdiri dari sembilan orang. Dan ada wali yang bukan anggota “dewan”
Wali Songo. Konsep ''dewan wali'' berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari
paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan
dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.
Figur para wali, sebagaimana
dikisahkan dalam babad dan ''kepustakaan'' tutur, selalu dihubungkan dengan
kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ''kesepakatan''
tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam
pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.
Pada umumnya orang berpendapat, yang
termaksud ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan
Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif
Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan
Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden
Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.
Namun, komposisi Wali nan Sembilan
ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah
Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim
dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia
itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai
anggota Wali Songo.
Sayang, Soekmono tak menyodorkan
argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya
menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati
oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing
kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman
orang dan menggoyahkan syariat Islam.
Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.
Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.
buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa.
''Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari
berdakwah,'' kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu
menambahkan.
Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.
Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ''Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,'' tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.
Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ''Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,'' tulis De Graaf, yang dijuluki ''Bapak Sejarah Jawa''.
Selain Sunan Tembayat --menurut
versi Babad Tanah Jawi-- Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng
namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam
pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi
setelah menyadap nira.
Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.
Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.
Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.
Itulah beberapa penggalan cerita seputar wali diantara para wali songo. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Terimakasih. Semoga artikel ini dapat mmembantu pengetahuan kita seputar wali lainnya.
Sumber:
https://id-id.facebook.com/notes/wali-songo/sepenggal-cerita-wali-songo-maulana-malik-ibrahim/37894669927
