Posted by : Unknown Rabu, 10 Desember 2014

Assalamualaikum, Wr. Wb.
            Yang terhormat Ketua DPM , wakil DPM I dan wakil DPM II FKIP Untirta serta para komisi jajarannya dan teman-teman sekalian di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu.
Sebelumnya, marilah kita bersyukur atas kehadiarat Allah yang Maha Kuasa, yang berkat rahmat dan hidayah-Nya,  kita bisa dikumpulkan bersama di tempat yang di berkati ini. Dan juga saya tidak lupa untuk menyampaikan sholawat serta salam kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliah menuju zaman islamiah,dari zaman kegelapan menuju zaman terang benerang, sehingga kita selalu berada di jalan yang benar.
Saya ucapkan terimakasih kepada saudara dan saudari yang telah datang pada acara ”Curhat FKIP” pada malam ini. Disini saya bukannya mau menjelek-jelekan suatu oraganisasi atau apapun. Keberadaan saya pada hari ini ialah untuk berbagi cerita seputar fakta dari data yang saya dapat setelah saya mengiuti LK II DPM  FKIP yang diadakan pada tanggal 29 November sampai dengan 30 November.
Sudah kita tahu sebelumnya. DPM atau yang disebut Dewan Perwakilan Mahasiswa merupakan salah satu organisasi di bidang Legislatif yang salah satu fungsinya tidak lain ialah controlling. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini saya akan membawakan pidato mengenai “ Pentingnya Controling untuk DPM FKIP”
Seperti yang saya sebutkan di atas, DPM FKIP UNTIRTA memiliki fungsi sebagai controling pada kegiatan-kegiatan Ormawa yang ada pada jajaran FKIP. Dalam tugasnya sebagai pengawas suatu kegiatan, DPM berhak menanyakan perihal mengenai kegiatan Ormawa yang sedang diadakan bila kegiatan itu menjanggal atau tidak sesuai pada ketetapan atau tidak berjalan semestinya. Lalu bagaimana dengan kegiatan DPM sendiri? Siapakah yang bertugas mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh badan pengawasan itu? Apakah kegiatan yang dibuat oleh aturan DPM sendiri, berjalan sesuai aturan yang dibuatnya? Apakah ia tidak perlu pengontrol lagi karena tugas DPM sendiri ialah mengontrol kegiatan?
Untuk menjawab hal diatas, saya melakukan observasi ke salah satu kegiatan yang diadakan DPM FKIP Untirta yaitu LK II DPM FKIP. Pada LK II DPM FKIP ini dirancang  dengan tema “menanamkan sikap kritis dan profesionalitas siswa”. Acara ini dimulai dengan tekmet(technical meeting) pukul 2 siang dengan penempatan di samping PKM B. Namun pada kenyataannya, belum ada seorang pun yang hadir disana pada jam yang telah dijanjikan tersebut. Selain itu, setelah menemui salah satu panitianya, rupanya ia belum mencari pula ruangan yang akan digunakan untuk tekmet. Mungkin memang, tekmet hanya sekedar pertemuan sebelum hari H acara yang dijanjikan. Namun ternyata pada hari H nya pun, kegiatan tidak berjalan sesuai dengan aturan yang dibuat panitia DPM sendiri.
Jadwal “check in” dimulai pukul 7 sampai pukul 8. Tetapi itu hanyalah sebuah tulisan, pada kenyataannya kami peserta diminta menunggu sampai 8.30. Setelah mengaret setengah jam dari jadwal, peserta diberangkatkan. Peserta dibagi menaiki 2 angkot yang berbeda. Perjalanannya ialah menuju Karang Tanjung, Pandeglang. Namun pada perjalanan, tidak ada koordinir dari panitia dengan supir angkot perihal lokasi yang dituju. Peserta dibawa nyasar  hingga baru sampai jam 10 lewat tiba di tempat.
Sesampai disana, acara dimulai dengan pengenalan ketua dan jajarannya. Ketua DPM memperkenalkan diri kepada para peserta. Yang lucu dari ketua ini ialah dirinya yang memakai celana robek yang justru tidak mencerminkan sama sekali ia seorang ketua dari badan legislatif. Saya jadi bertanya-tanya preman dari mana yang dijadikan ketua oleh para anggota DPM?
Materi pertama pada kegiatan ini dimulai setelah shalat dzuhur dan makan, kemudian dilanjut dengan materi kedua hingga pukul 16.30 dan materi ketiga dilanjutnya pukul 17.00 sampai pukul 18.00. Acara dilanjutkan dengan sholat, yang anehnya pada saat peserta shalat di masjid yang terletak cukup jauh dari tempat kami menetap, tidak terdapat sama sekali panitia yang menjaga tas para peserta, padahal itu jelas-jelas merupakan hal yang fatal. Apakah panitia DPM tidak peduli dengan keamanan pesertanya?. Materi kembali pada pukul 19.30, dan selesai jam 00.30 yang seharusnya sudah selesai pukul 23.00. Disini terlihat bahwa panitia sendiri tidak mengikuti aturan yang ia buat, dan bukan sekali saja panitia DPM FKIP mengaretkan waktu, namun berkali-kali.
Pada hari kedua, panitia mulai mengikuti jadwal yaitu pukul 5.00 membangunkan peserta, acara dilanjutkan dengan sholat, kemudian evaluasi dengan pergi ke pos-pos yang telah disediakan. Terjadi pengaretan waktu yang paling fatal pada kegiatan hari itu. Evaluasi pada jadwal dimulai pukul 6.00 sampai pukul 8.00, Namun pada eksekusinya, pukul 6.30 dimulai dan berakhir pukul 09.30.
Begitu pula dengan acara selanjutnya yang dijadwalkan sebagai acara penutup dan pulang yang dijadwalkan pukul 09.30, berubah menjadi pukul 00.30. Dan selama kekosongan itu, peserta tidak tahu harus melakukan apa karena tidak adanya panitia sampai pukul 11.45.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, terlihat bahwa walaupun DPM merupakan orang yang membuat aturan, nammun pada kenyataanya mereka ia belum bisa menerapkan peraturan yang ia buat sendiri? Padahal seharusnya mereka menjadi acuan dari kegiatan Ormawa lainnya.
Mereka melakukan kontroling ke Ormawa lain dan evaluasi mengenai sesuatu kegiatan Ormawa lain, namun mereka sendiri juga melakukan kesalahan seperti kesalahan yang dibuat oleh Ormawa lain, malahan dibandingkan dengan kegiatan Ormawa lain, ini lebi parah. Mereka mengaretkan waktu begitu banyak, tidak adannya kesiapan dan koordinasi mengenai tempat tujuan, ketua yang tidak mencerminkan ketua yang sebenarnya, peserta yang ditelantarkan, panitia yang hilang-hilangan dan tak bertanggung jawab atas peraturan yang mereka buat sendiri? Lalu apa fungsinya mereka sebagai kontroling jika panitia DPM belum dapat mengontrol dengan benar kegiatan mereka dengan benar?
Maka dari itu saya mengatakan bahwa pentingnya controling terhadap DPM FKIP ialah penting sekali untuk kemajuan FKIP Untirta ini, karena kenapa?, karena mereka lah acuan bagi Ormawa lain, mereka bisa mengevaluasi kegiatan Ormawa lain, namun itu bukan berarti mereka dapat semena-mena dengan kegiatan yang dilakukannya. Mereka seharusnya menjalankan sesuai kegiatan Ormawa lainnya yang harus menjalankan aturan. Inilah yang saya dapat katakan “ Benahi dulu dirimu , sebelum kau benahi orang lain”.
Hanya itu saja yang saya dapat utarakan pada acara kali ini. Yang saya utarakan beralaskan dari observasi yang saya lakukan pada LK II DPM FKIP. Terima kasih banyak atas perhatiannya dan saya minta maaf atas kesalahan-kesalahan saya. Akhir kata saya ucapkan

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Copyright © orange -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan