Posted by : Unknown
Selasa, 23 Desember 2014
Filsafat
abad ke -20
(Rangkuman dari hal
34-64)
Filsafat yang
diterangkan dalam abad 20, ialah filsafat barat pada permulaan abad ke-20.
Namun, bukan sejak tahun 1900 filsafat baru ini dimulai. Dalam filsafat,
tiap-tiap waktu bergabung bermacam corak. Corak idealisme dan realisme,
rasionalisme dan irasionalisme, optimisme dan pesinisme. Apabila kita hendak membedakan alam pikiran
pada suatu waktu dengan alam pikiran pada waktu lain, harusnya kita menyelidiki
sifat mana yang memegang peran penting dan mana yang kurang penting. Misalnya,
jangan kita mengatakan bahwa alam pikiran abad-19 bersifat materialis atau
mekanis dan alam pikiran abad ke-20 bersifat realis dan irasionalis. Akan
tetapi, maksudnya ialah bada abad ke-19 lebih banyak pokok yang dipikirkan
tentang pokok-pokok tertentu daripada pokok-pokok yang lain yang lebih banyak
dipikirkan pada abad ke-20.
Dalam abad ke-19 orang
dengan teratur memikirkan alam, sedangkan dalam abad ke-20 lebih condong ke
manusia. Namun tidak maksudnya ketika abad ke-20, manusia tidak memikirkan
alam, yang dimaksud adalah sudut pandang yang diambil dengan cara berbeda atau
bila dilihat dari kacamata lain.
Filsafat tidaklah
berlaku di daerah yang abstrak yang tidak dipengaruhi hidup. Pendirian yang dipegang oleh beberapa idealis
bahwa filsafat dapat dianggap lepas dari waktu tidaknlah benar. Demikian pula,
kaum materialis yang menegatakan bahwa gambaran kerohanian dari suatu susunan
tertentu dari masyarakat. Oleh karena itu perubahn filsafat harus dilihat dari
sudut perubahan-perubahan yang terdapat pada masyarakat.
Ada dua sistem yang tidak begitu berarti lagi pada zaman
sekarang ini, yaitu 1)positivisme, dan 2) materialisme. Positivisme mengatakan,
bahwa pengetahuan manusia dibatasi oleh pengalaman. Jadi, semua pengetahuan
adalah pengetahuan dari pengalaman(empirisme). Pandangan demikian menurut
sassen sudah berakhir pada abad ke-19. Namun penulis, tidak sependapat
dengannya,. Neo-positivisme memegang peranan penting dalam filsafat abad ke-20.
Filsafat ini dari Eropa masuk ke Amerika dan dalam tahun-tahun terakhir sangat
berpengaruh di Amerika. Tidak benar seperti yang dikatakan sassen bahwa
materialisme sebenarnya adalah suatu asas kuno yang berpengaruh pada abad
ke-19, tetapi pada zaman sekarang tak laku lagi. Barangkali di Eropa-Barat
filsafat ini terdesak, karena di rusia dan daerah yang masuk lingkungan
kekeuasaanya filsafat ini masih merupakan filsafat resmi dan di Amerika pun
materialisme masih mendapat temapat subur.
Dalam filsafat barat
abadke-20 terlihat tendensi tak percaya terhadap akal sebagai fungsi dan daya
kebenaran. Maka dari itu, orang akan mencari sumber lain, yang dapat
menjelaskan kenyataan. Bukan intelek lagi yang dipakai, melainkan misalnya
intuisi yang dianggap menjangkau kenyataan dengan landsung berbeda dengan akal
yang menempuh jalan berliku-liku menggunakan pengertian-pengertian.
Tindakan-tindakan praktis dihargai lebih tinggi daripada teori. Peristiwa ini
dinamakan “krisis rasionalisme”. Peristiwa ini merupakan satu unsur
pentingfilsafat aba ke-20.
Pabila kita mengatak
krisis rasionalisme maka, hal in berarti juga krisis subjektivisme yang
merupakan adalah suatu krisis idealisme pula.
Athur Liebert
berpendapat bahwa yang dikatakan fiilsafat modern adalah filsafat dari tahun
1600 sampai dengan tahun 1900. Dan
Bochenski berpendapat, filsafat modern ini adalah masuk filsafat kuno.
Yang dianggap sebagai
asas-asas pokok dari filsafat brat modern, ialah 1) meknisme dan
2)Subjektivisme. Teori cita pembawaan dipakai juga oleh ahli-ahli pikir seperti
Spinoza(1632-1677) dan Leibniz(1646-1712) dan Hume(1711-1776). Hume membenarkan
mekanisme, namun dihubungkan dengan subjektivisme. Hume berpendapat bahwa
hukum-hukum yang berlaku umum ialah asosiasi-asosiasi kesan-kesan yang
disebaban oleh kebiasaan. Hukum-hukum
ini tidak bersifat objektif. Smuanya dianggap Hume serba-bimbang. Hume sendiri
ialah penganut skeptisisme, yaitu ajaran serba-bmbang.
Pengetahuan keilmuan
yang terjadi dari engalaman dan teori berlaku terhadap dunia empiris, terhadap
seluruh peristiwa. Persoalan-persoalan metafisika seperti adanya Tuhan,
kekekalan, nyawa, dan kebebasan kemauan tak dapat diselesaikan dengan intelek,
karena tak dapat dicapai dengan akal karena itu merupakan suatu kemustahilan.
Kant yang berbicara hal ini dalam zamannya dinamakan “penghancur segalanya”(
Allezesmalmer). Ia beranggapan, bahwa metafisika yang tradisional adalah suatu
kemustahilan dan pengetahuan hanya terbatas dalam bidang pengalaman saja.
Memang tak dibantah bahwa aliran-aliran pokok filsafat abad 19 bersumber dari
kant. Dari kant ada dua jalan yang terbuka. Jalan pertama menyelidiki kenyataan
dengn caracara ilmu. Dalam hal ini filsafat merupakan sintesis hasil ilmu-ilmu
khusus. Haisl-hasil ini harus dikumpulkan dalam suatu sistem. Tujuannya
mendapat gambaran dunia secara ilmu. Jaln kedua ialah pada proses-proses yang
merupakan dasar-dasar pembentukan dari budi untuk menegaskan kenyataan. Aliran
pertam menjelma menjadi positivisme dan materialisme dan filsafat menjadi
sintesis atau teori ilmu. Aliran kedua menjelma menjadi idealisme mutlak(
Fichte 1762-1814, Hegel 1790-1831), yang menghasilkan sistem-sistem yang
menggambarkan bahwa kenyataan adalah hasil dai suatu gerakan pikiran.
Kejadian-kejadian
diatas menjelma pula suatu aliran lain dan dalam banyak hal menjadi ciri bagi
filsafat abad ke-20, yaitu pembaruan realisme dan metafisika. Bochenski berpendapat bahwa yang dinamakan
“filsafat dewasa ini “ adalah khusus filsafat mulai dari perang dunia I sampai
tak lama sesudah itu. Alam pikiran antara dua perang dunia bercampur bermacam
aliran yang berkuasa dari zaman lampau. Yang terpenting diantaranya adalah
1)Fenomenologi, 2) realisme baru, 3) irasionalisme yang mempunyai dasar
vitalisme dan pernah juga dinamakan filsafat hidup.
Filcdewasa ini dibagi
dalam enam pikiran yaitu 1) empirisme atau filsafat materi, 2) Idelaisme dan
corak Kant atau hegel, 3) Filsafat Hidup, dan 4) fenomenologi atau filsafat
hakikat. Dua lagi yaitu 5) filsafat eksistensi dan 6) metafisika tentang ujud.
Sumber:
Prof.Dr.R.F.Beerling. Filsafat Dewasa Ini
